Just another WordPress.com site

Sejarah Semiotika

Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Piliang, 1998:262).
Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem (Hidayat, 1998:26).
Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda (Berger, 2000:11-22). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap. Bicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).
Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopi (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek, dan sebagainya.
Pertanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna.
Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut reerent. Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata mengacu pada kesedihan. Apalagi hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul penertian (Eco, 1979:59).
Menurut Piere, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu (Eco, 1979:15). Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretarikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Aritnya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi berkat ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Hubungan ketiga unsur yang dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segi tiga semiotik.
Selanjutnya dikatakan, tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol.
ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk arah bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari akan hujan, simbol adalah tanda yang diakui keberadaannya berdasarkan hukum konvensi. Contoh simbol adalah bahasa tulisan.
Ikon, indeks, simbol merupakan perangkat hubungan antara dasar (bentuk), objek (referent) dan konsep (interpretant atau reference). Bentuk biasanya menimbulkan persepsi dan setelah dihubungkan dengan obyek akan menimbulkan interpretan. Proses ini merupakan proses kognitif dan terjadi dalam memahami pesan iklan.
Rangkaian pemahaman akan berkembang terus seiring dengan rangkaian semiosis yang tidak kunjung berakhir. Selanjutnya terjadi tingkatan rangkaian semiosis. Interpretan ada rangkaian semiosis lapisan pertama, akan menjadi dasar untuk mengacu pada objek baru dan dari sini terjadi rangkaian semiosis lapisan kedua. Jadi, apa yang berstatus sebagai tanda pada lapisan pertama berfungsi sebagai penanda pada lapisan kedua, dan demikian seterusnya.
Terkait dengan itu, Barthes seperti dikutip Iriantara dan Ibrahim (2005:118:119) mengemukakan teorinya tentang makna konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunaannya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif. Semuanya itu berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir dan objek atau tanda.
Bagi barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama. Penanda tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika teori itu dikaitkan dengan desain komunikasi visual (DKV), maka setiap pesan DKV merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (non verbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna dekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).
Mengingat DKV mempunyai tanda terbentuk bahasa verbal dan visual, serta merujuk bahwa teks DKV dan penyajian visualnya juga mengandung ikon terutama berfungsi dalam sistem-sistem non kebahasaan untuk mendukung pera kebahasaannya, maka pendekatan semiotik terhadap DKV layak diterapkan.
Konsep dasar semiotik yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Roland Brahes yang berangkat dari pendapat Ferdinand de Saussure. Pendekatan ini menekankan pada tanda-tanda yang disertai maksud (signal) serta berpijak dari pandangan berbasis pada tanda-tanda yang tanpa maksud (sympton) karya desain komunikasi visual mempunyai tanda yang ber-signal dan ber-symptom, dan dalam memaknai makna karya DKV harus mengamati ikon, indeks, simbol dan kode yang menurut Barthes adalah cara mengangkat kembali fragment-framgment kutipan (Zoest, 1993:39-42).
Sebab esensi membongkar makna karya DKV dapat dilihat dari adanya hubungan antara gejala struktural yang diungkapkan oleh tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh acuannya. Hasilnya akan dapat dilihat dan diketahui bagaimana tanda-tanda tersebut berfungsi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Ia mampu menggantikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan. Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian berkembang pula dalam bidang seni rupa dan desain komunikasi visual.
Sementara itu, Charles Sanders Pierce, menandaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan medium tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda.
Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa diaritkan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telepon, tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka juga tanda gambar berbentuk rambu lalu lintas, dan masih banyak ragamnya (Noth, 1995:44)
Resume

BAB I
Pendahuluan

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam bahasa Arab, istilah frasa tidak terlalu populer seperti dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam buku-buku gramer klasik bahasa Arab yaitu nahwu sharaf tidak ada konsep yang jelas tentang frasa itu sendiri. Namun, baru dalam buku gramer bahasa Arab modern yaitu buku Jami’ud Durus al-Arabiyah karya Al-Ghalayaini, yang mengemukakan konsep murakkab yaitu murakkab isnady, athfy, idhafy, bayani, dan lain-lain. Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut pada dasarnya merupakan konstruksi frasa ( Asrori, 2004 ; 32 ).
Pendapat Imam Asrori diatas berdasarkan pada pengertian frasa itu sendiri yang dikemukakan oleh para ahli, dibawah ini merupakan beberapa pengertian frasa menurut para ahli bahasa;
1.    Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi ( Ramlan, 1981).
2.    Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa ( Cook, 1971 dalam tarigan, 1986 ).
3.    Frasa adalah dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif (Kridalaksana,1993).
4.    Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi klausa (Ibrahim,1996).
Dari pengertian frasa diataslah yang melatarbelakangi Imam Asrori dalam pendapatnya yang mengatakan bahwa konsep murakkab  yang dikemukakan oleh Al-Ghalayaini selain murakkab isnady merupakan frasa.
Dalam buku Al-Jumlah Al-Arabiyah karangan Muhammad Ibrahim Ubadah dijelaskan tentang konsep jumlah. Ia membagi jumlah kepada dua bagian yaitu menurut ulama klasik dan modern. Pendapat ulama klasik sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan ulama modern, hanya saja ulama modern lebih menspesifikasikan pembagian jumlah tersebut menjadi delapan bagian yaitu; murakkab fi’il, murakkab ismy, murakkab wasfi, murakkab masdhari, murakkab al-khalifah, murakkab al-maushul, murakkab dzhorfi, dan murakkab jar al-majrur. Sedangkan ulama klasik membagi menjadi tiga yaitu; murakkab isnadi, murakkab taqyidi, dan murakkab ghair taqyidi wa isnadi.
Yang perlu digaris bawahi pada konsep jumlah yang dikemukakan oleh Ubadah diatas adalah bahwasannya konsep jumlah diatas merupakan padanan frasa. Namun, yang menjadi permasalahan Ubadah memasukkan murakkab fi’li dan murakkab ismi dalam pembagian jumlah (frasa) padahal, murakkab fi’li dan murakkab ismi merupakan kontruksi yang sifatnya predikatif dan hal ini bertentangan dengan konsep frasa itu sendiri yang mensyaratkan gabungan dua kata atau lebih itu sifatnya tidak predikatif.
Berdasarkan pada permasalahan diataslah yang melatarbelakangi peneliti untuk meneliti konsep frasa dalam bahasa Arab. Bagaimana pun, suatu bahasa memiliki kesamaan dengan bahasa lainnya namun, perlu di ingat bahwa tiap bahasa memiliki keunikan tersendiri yang belum tentu dimiliki bahasa lainnya. Dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba meneliti bagaimana konsep frasa dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu peneliti mengambil judul “ Konsep Frasa dalam Bahasa Arab”.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang yang dikemukakan diatas, maka pada penelitian ini akan menitikberatkan pada Konsep Frasa dalam Bahasa Arab. Bahwasannya konsep jumlah merupakan padanan frasa. Namun yang menjadikan permasalahan adalah Ubadah memasukan murakkab ismi dan murakkab fi’li merupakan kontruksi yang sifatnya predikatif dan hal ini merupakan suatu konstruksi yang bertentangan dengan konsep frasa.
Agar penelitian ini lebih fokus dan terarah, maka akan dirumuskan masalah pokok penelitian yang berkisar pada hal-hal berikut:

1.    Apakah ada konsep tentang frasa didalam bahasa Arab?
2.    Apakah murakkab murupakan padanan dari konsep frase?

C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.    Untuk mengetahui konsep frasa dalam bahasa Arab
2.    Untuk mengetahui konsep murakkab, apakah berpadanan dengan frase.

D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi orang-orang yang mempelajari tentang ilmu bahasa. Adapun manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis
Hasil peneliti ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu bahasa bagi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra arab dan bagi para pembaca pada umumnya.
2.    Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi mahasiswa yang mengkaji tentang frasa dalam bahasa arab dan juga bagi mahasiswa yang mengkaji bahasa Indonesia secara khusus. Namun secara umum penelitian ini akan bermanfaat bagi para pengkaji ilmu bahasa.
E.    Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang frase sebelumnya sudah pernah diteliti oleh Rhabiatun Adhawiyah (990704013) yang berjudul “Analisis kontrastif frase nominal dalam bahasa Arab dengan bahasa Inggris”. Dalam penelitian beliau membahas tentang persamaan dan perbedaan frase nominal dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Di sini penulis hanya memfokuskan tentang bagaimana bentuk dan cara pembentukan frase verbal dan frase nominal dalam bahasa Arab. Penulis menggunakan teori Asrori sebagai rujukan primer dalam melakukan penelitian ini karena ia memaparkan secara lebih jelas tentang frase, sedangkan teori lain penulis ambil sebagai rujukan seperti pendapat Ramlan, Samsuri, Putrayasa dan lain-lain.
Kemudian penelitian tentang frasa yang lainnya juga sudah pernah diteliti oleh Mawadi (040704017) Universitas Sumatra Utara Fakultas Sastra Medan yang berjudul “Analisis Frasa dalam Bahasa Arab”. Dalam penelitian beliau membahas analisis frasa verbal dan frasa nominal dalam bahasa arab.
F.    Kerangka Berpikir
Berbicara mengenai frasa, sebagaimana pengertian frasa adalah suatu gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi (Ramlan, 1981). Dari devenisi ini semakna dengan yang dikemukakan Hassanain (1984). Dalam hal ini Hassanain menggunakan istilah tarkib dan Badri menggunakan istilah ibarah.
Jadi, frasa atau tarkib adalah gabungan unsur yang paling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan satu kata tunggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Kemudian, frasa atau ibarah adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antar kata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja.
Dari beberapa definisi diatas secara substansial tidak berbeda. Setiap definisi menetapkan dua hal, (a) frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata dan (b) hubungan antar unsur pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Maksudnya, frasa tersebut selalu berada dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu:
S, mencakup mubtada’, musnad ilaih, fa’il, naibul fa’il, isim kana, atau isim inna,
P, predikat mencakup khabar, musnad, khabar kana, atau khabar inna
O, objek atau maf’ul bih
K, keterangan atau mukammilat mencakup mafa’il dan hal.
Frasa dapat dikelompokan berdasarkan sejumlah kriteria misalnya berdasasrkan persamaan distribusinya dengan unsur frasa atau berdasarkan tipe strukturnya, persamaan distribusinya dengan golongan kata, dan berdasarkan unsur pembentuknya.
Kemudian setelah peneliti memaparkan sedikit tentang frasa, maka peneliti akan sedikit menjelaskan tentang jumlah yang dikemukakan Al-Ghalayaini (1984) dalam bukunya yang berjudul Jami’ ad-durus Al-lugah Arabiyah membedakan istilah jumlah dengan kalam. Menurutnya jumlah- disebut juga dengan murakkab isnady- adalah konstuksi yang terdiri dari S (musnad ilaih) dan P (musnad). sedangkan kalam adalah konstruksi yang terdiri atas S dan P, mengandung makna yang utuh, dan dapat berdiri sendiri. Dari definisi yang dikemukakan Al-Ghalayaini tersebut dapat diartikan bahwa jumlah memang terdiri dari S dan P, tetapi tidak harus mengandung makna yang utuh dan tidak harus dapat berdiri sendiri.
Dan Al-Ghailayaini  mengemukakan tentang konsep murakkab,yaitu. Murakkab adalah perkataan yang tersusun dari dua kalimat agar mencapai maksud yang dituju. Peneliti akan manjelaskan sedikit tentang jenis-jenis murakkab itu sendiri:
1.    Murakkab Isnady
Adalah murakkab yang tersusun dari musnad dan musnad ilaih. Murakkab isnady terbagi menjadi lima bagian, diantaranya:
a.    Tersusun dari mubtada dan khabar
b.    Tersusun dari fi’il dan fa’il
c.    Tersusun dari isim dan khabar khana
d.    Tersusun dari isim dan khabar inna
e.    Tersusun dari fi’il majhul dan naibul fa’il
2.    Murakkab idhofy
Adalah murakkab yang tersusun dari mudhof dan mudhof ilaih.
3.    Murakkab Bayani
Adalh setiap yang tersusun dari sifar dan mausuf, muakkid dan muakkad, badal dan mubdal minhu.
4.    Murakkab Athfi
Adalah setiap yang tersusun dari ma’tuf dan ma’tuf alaih, dengan disertai huruf athaf di tengahnya.
5.    Murakkab Mazji
Adalah setiap dua kata yang tersusun agar menjadi satu kata.
6.    Murakkab adadi
Adalah bilangan dari 11 sampai 19 .
Berbagai murakkab selain murakkab isnady tersebut pada dasarnya merupakan konstruksi frasa (Asrori, 2004 ; 32). Dan pendapat Imam Asrori yang berdasarkan pada pengertian frasa itu sendiri yang dikemukakan oleh para ahli, sebagaimana pengertian frasa menurut para ahli bahasa. Bahwa frasa itu adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi (Ramlan, 1981).

G.    Metode dan Langkah Penelitian
Dalam sebuah penelitian ilmiah, menjadi hal yang sangat penting untuk menempuh langkah-langkah penelitian yang jelas. Dalam penelitian ini penulis telah menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Mengungkap pendapat yang dikemukakan Asrori tentang frasa dalam bahasa Arab.
2.    Memaparkan secara jelas tentang konsep frasa dalam bahasa arab.

1.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan menjelskan secara rinci atau dengan memaparkan tentang konsep frasa dalam bahasa arab. Sedangkan metode kajian yang digunakann dalam penelitian ini adalah metode distribusional.
Metode kajian distribusional menggunakan alat penentu unsur bahasa itu sendiri. Metode distribusional memakai alat penentu didalam bahasa yang diteliti. Metode ini berhubungan erat dengan paham strukturalisme de sausure (1916), bahwa setiap unsure bahasa berhubungan satu sama lain, membentuk satu kesatuan padu (the world unified). Metode distribusional ini sejalan dengna penelitian deskriptif dalam membentuk perilaku data penelitian.
2.    Langkah Penelitian
a.    Sumber Data
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Sintaksis Dalam Bahasa Arab. Sedangkan, data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini.
b.    Jenis Data
Data dalam penelitian ini adalah kualitatif berupa buku Sintaksis Dalam Bahasa Arab dan Jumlatul Al-Arobiyah yang didalamnya terdapat perbedaan yang dikemukakan ubadah tentang frasa atau murakkab.
c.    Tekhnik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang ditempuh dalam penelitian ini yaitu dengan teknik kepustakaan dan dengan langkah sebagai berikut:
1.    Mempelajari dan menelaah konsep frasa, dan kemudian menjelaskannya dengan jelas.
2.    Mengumpulkan dan mempelajari literature-literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas, baik yang menjadi literature sumber data primer ataupun sekunder.
3.    Membandingkan konsep frasa dan jumlah yang terdapat dalam buku Ubadah.

d.    Analisis Data
Data-data telah terkumpul, kemudian peneliti pun mencari konsep frasa dalam bahasa arab. Kemudian menganalisis dengan secara jelas. Maka dalam peneltian ini dilakukan dengan pendekatan sintaksis yang termasuk dalam tataran linguistik. Dengan pendekatan ini peneliti dapat menentukan analisis tentang konsep frasa dalam bahasa arab. Dan menjelaskan konsep jumlah yang disebutkan Muhammad Ibrahim Ubadah, bahwa ia membagi jumlah pada dua bagian. Yaitu menurut ulama klasik dan menurut ulama modern.
e.    Membuat Kesimpulan
Kesimpulan adalah akhir dari suatu penelitian sebagai jawaban permasalahan yang terdapat dalam rumusan masalah.

H.    Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan, maka penelitian ini dibagi dalam empat bab:
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Identifikasi Masalah
C.    Tujuan Penelitian
D.    Kegunaan Penelitian
E.    Tinjauan Pustaka
F.    Kerangka Berpikir
G.    Metode dan Langkah penelitian
BAB II LANDASAN TEORITIS ANALISIS LINGUISTIK
A.    Pengertian frasa
B.    Teori tentang frasa, jumlah dan murakkab
BAB III ANALISIS KONSEP FRASA DALAM BAHASA ARAB
A. Menjelaskan tentang konsep frasa dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Sintaksis Bahasa Arab karya Imam Asrori.
B. menganalisis konsep jumlah yang terdapat dalam buku Al-Jumlah Al-Arobiyah karangan Muhammad Ibrahim Ubadah.
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran

DAFTAR PUSTAKA

Imam Asrori. Sintaksi Bahasa Arab, Malang, Misykat, 2004.
Fatimah Djajasudarma, Metode Linguistik, Bandung, Refika Aditama, 2010
Mansoer Pateda, linguisti (sebuah pengantar), Bandung, angkasa,1994.
Abdul Chaer, linguistic Umum, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2003.
A Chaedar Alwasilah, linguisti Suatu Pengantar, Bandung, 1993.
Ida Bagus Putrayasa, Analisis Kalimat, PT Refika Aditama, Bandung, 2007.
Musthofa ghulayaini, Jami’ud durus Al-Arobiyah, Maktabah Ashriyah, bairut, 1995
Muhammad Ibrahim Ubadah, Jumlatul Arobiyah, Maktabah Al-Adab, Al-Qahirah, 868

BAB II LANDASAN TEORI ANALISIS LINGUISTIK

Berikut ini adalh pengertian-pengertian frasa yang dikemukakan batasan tentnag frasa dari berbagai sumber.
1.    Frasa adalah satuan gramatgik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas fungsi ( Ramlan, 1981).
2.    Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa ( Cook, 1971 dalam tarigan, 1986 ).
3.    Frasa adalah dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif (Kridalaksana,1993).
4.    Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi klausa (Ibrahim,1996).
Keempat devini tersebut semakna dengan yang kemukakan Hasanain 1984 dan Badri 1986. Dalam hal ini Hasanain menggunakan istilah tarkib (5) dan Badri menggunakan sitilah ‘ibarah (6).
5.    Frasa atau tarkib adalah gabungan unsure yang saling terkait dan menempati fungsi tertentu dalam kalimat, atau suatu bentuk yang secara sintaksis sama dengan satu kata tuggal, dalam arti gabungan kata tersebut dapat diganti dengan satu kata saja
التركيب يقصد به مجموعة من العناصر ترتبط ببعضها و تصلح لأن تشغل وظيقة واحدة في الجملة، أي أنها تساوي نحويا كلمة مفردة، فيستبدل بمجموع عناصرها اسما أو فعل
(Hasanani, 1984:164-165)
6.    Frasa atau ‘ibarah adalah konstruksi kebahasaan yang terdiri atas dua kata atau lebih, hubungan antara kata dalam konstruksi itu tidak predikatif, dan dapat diganti dengan satu kata saja
العبارة ويقصد بها في النحوي العربي التركيب غير الإسنادي، تتكون من  كلمتين بينها علاقة غير إسنادية أو بناء لغوي يتألف من كبمتين بينهما ترابط سياقي يجعل منها وحدة متماسكة حتي يمكن أن يستبدل بها كلمة واحدة
(Badri, 1986;28)

Keenam devinisi di atas secara substansial tidak berbeda. Setiap defines menetapkan dua hal, (a) frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dia kata dan (b) hubungan antar unsure pembentuknya tidak melebihi batas fungsi unsure kalusa. Maksudnua, frasa tersebut selalu berada dalam satu fungsi unsure klausa, yaitu:
S, mencakup mubtada’, musnad ilaih, fa’il, naibul fa’il, isim kana, atau isim inna,
P, predikat mencakup khabar, musnad, khabar kana, atau khabar inna
O, objek atau maf’ul bih
K, keterangan atau mukammilat mencakup mafa’il dan hal.

Kelompok kata atau frasa dalam bahasa inidonesia batasnya juga sering ditandai dengan tekanan pada kata terakhir. Seringkali bila terjadi kesalahpahaman terhadap suatu konstruksi sebagai akibat dari kesalahan menafsirkan konstruksi tersebut, yakni dengna member tekanana pada tempat yang berbeda. Bandingkanlah makna konstruksi (37a) dengan (37b), antara konstruksi (38a) dengan (38b), dan anatara konstruksi (39a) dengan (39b) berikut:
(37a) buku / sejarah baru
(37b) buku sejarah / baru
(38a) guru / baru datang
(38b) guru baru / datang
(39a) semua / orang asing
(39b) semua orang / asing

Kemudian dalam sejarah linguistic istilah frasa banyak digunakan pengertian yang berbeda-beda. Disini istilah frase tersebut digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada dibawah satuan klaisa, atau satu tingkat berada dia atas satuan kata.
Menurut pengertian lainnya, frase lazim didefinisikan sebagai satiam gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Baik dari define yang pertama maupun yang kedua kita lihat bahwa yang namanyafrasa itu pasti terdiri lebih dari sebuah kata. Lalu, kalu yang dimaksid dengan kata seperti yang dibicarakan diatas adalah satuan gramatikal bebas terkecil, maka berarti pembentuk frasa itu harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem terikat. Jadi, konstruksi belum makan dan  tanah tinggi  adalah frasa; sedangkan konstruksi tata boga  dan interlokal bukan frase, karena boga  dan inter adalah morfem terikat. Dari definisi ini juga terlihat bahwa frasa adalah konstruksi nonpredikatf.
Jenis frasa
Dalam pembicaraan tentang frase biasanua dibedakan adanya frasa (1) dksosentrik, (2) frase endosentrik (disebut juga frasa subordinatif atau ftasa modikatf), (3) frase koordinatif, dan (4) frase apositif. Berikut ini akan dibicarakan satu per satu secara singkat.
Frasa Eksosentrik
Frasa eksosentrik adalah frasa yang komponen-komponennya tidak mempunya perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, ftrasa di pasar, yang terdiri dari komponen di  dan pasar. Secara keseluruhan atau secara utuh frasa ini dapat mengisi fungsi keterangan, misalnya, dalam kalimat berikut :
dia bergadang di pasar
tetapi baik komponen di maupun komponen pasar tidak dapat menduduki fungsi keterangan dalam kalimat tersebut. Sebab konstruksi (59a) dan (59b) tidak diterima
(59a) dia berdagan di
(59b) dia berdagang pasar
Contoh lain, frase yang baru dalam kalimat (60) tidak dapat diganti baik dengan yang maupun baru sebab konstruksi (61a) dan konstruksi (61b) tidak diterima
(60) yang baru bukan punya saya
(61a) * yang bukan punya saya
(61b) * baru buka punya saya
Frasa eksosentris biasanya dibedakan atas frase eksosentris yang direktif dan frase eksosentris yang nonderektif. Frase eksosentris yang direktif komponen pertamanya berupa preposisi, seperto di, ked dan dari, dan komponen keduanya berupa preposisi, maka frase eksosentrik yang direktif ini lazim juga disebut frase proposisional.
Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang salah satu insurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya, salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya. Misalnya sedang membaca dalam kalimat (65), komponen keduanya yaitru membaca dapat menggantikan kedudukan frase tersebut, sehingga menjadi kalimat (66). Perhatikan!
(65) Nenek sedang membaca komik di kamar
(66) Nenek membaca komik di kamar
Frase endosentrik ini lazim juga disebut frase midfikatif karena komponen keduanya, yaitu komponen yang bukan ini atau hulu (Inggris head) mengubah atau membatasi makna komponen inti atau hulunya itu. Umpamanya, kata membaca yang belum diketahui kapan terjadinya, dalam frasa sedang membaca dibatasi maknanya oleh kata sedang sehingga maknanya itu menjadi ‘perbuatan membaca itu tengah berlangsung’.
Dilihat dari kategori intinya dapat dibedakan adanya frase nominal, frase verbal, frase ajektival, dan frase numeral. Yang dimaksud dengan frase nominal adalah endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronominal. Umpamanya, bus sekolah, kecap manis, karya besar dan guru muda. Frase nominal ini didalam sintaksis dapat menggantikan kata nominal sebagai pengisi salah satu fungsi sintaksis.
Frase Koordinatif
Frase koordinatif adalah frase yang komponen oembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau , tetapi,, maupun konjungsi terbagi seperti baik … baik, makin … makin, dan baik … maupun … frase koordinatif ini mempunyai kategori sesuai dengan kategori komponen pembentuknya. Contoh : sehat  dan kuat, buruh, atau majikan, makin terang makin baik, dan  dari, oleh, dan untuk rakyat.
Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit, biasanya disebut frase parataksis. Contoh hilir mudik, tua muda, pulang pergi, sawah lading, dan dua tiga hari.
Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya; dan oleh karena itu, urutan komponennya dapat dipertukarkan. Umpamanya, frase apositif pak ahmad, guru saya dalam kalimat (71) dapat diubah susunannya atau urutannya seperti pada kalimat (72).
(71) Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali
(72) Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali
Beberapa contoh frase apositif terdapat pada kalimat-kalimat
(73) sukarno, presiden pertama RI, telah tiada
(74) Dika menulis surat kepada nita, kakaknya
(75) Alat komunikasi internasional, bahasa Inggris, banyak dipelajari orang
Perluasan Frase
Pada 6. 3. 1 dsudah desebutkan bahwa salah satu cirri frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas. Maksudnya, frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengna konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Umpamanya, frase di kamar tidur dapat diperluar dengan diberi komponen baru, misalnya berupa kata daya, ayah, atau belakang sehingga menjadi di kamar tidur saya, di kamar tidur ayah, dan  di kamar tidur belakang. Perluasan ini menurut keperluannya dapat dilakukan di sebelah kanan, seperti ketiga contoh di atas; dapat juga di sebelah kiri, misalnya, menjadi bukan seorang mahasiswa, atau hanya seorang mahasiswa. Seringkali dapat juga perluasan ini dilakukan di sebelah kiri dan disebelah kanan sekaligus. Misalnya, frase seorang mahasiswa dapat diperluas menjadi  bukan seorang mahasiswa kedokteran. Jadi, disebelah kiri ditambah kata bukan  dan di sebelah kanan diberi kata kedokteran.
Dalam bahasa Indonesia perluasan frase ini tampkanya sangant produktif.  Antara lain, karena pertama, untuk menyatakn konsep-konsep khusus, atau sangat khusus, atau sangat khusus sekali, biasanya diterangkan secara leksikal. Bandingkan rangkaian frase berikut ini, dari yang paling umum, yaitu kereta, sampai yang paling khusus sekali.
(76)        kereta
Kereta api
Kereta api ekspres
Kereta api ekspres malam
Kereta api ekspres malam luar biasa
Sebuah kereta api ekspres malam luar biasa
Dan didalam kitab jumlatul arobiyah karangan ubadah telah memberikan beberapa contoh dan teori yang berhubungan dengan frase. Yang pertama adalah pembagian murokkab menurut ulam klasik dan modern. Namun, dalam buku ini ulama modern lebih menspesifikannya. Yang pertama murokkab fi’li, murokkab ismi, murokkab wasfi, murokkab masdari, murokkab mukholafah, murakkab al-wushul, murakkab adzhorfi, murakkab jar majrur.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab awal buku jumlatul arobiyah bahwa jumlah itu terdiri dari mufrod saja. Tapi yang terdiri dari mufrod itu adalah murokkab. Dan yang dimaksud dengan murokkab adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kalimat atau lebih

المحاضرة الخامسة
المفعول فيه (ظرف الزمان والمكان / Circumstantial Patient)
البحث الأساسي(Pokok Bahasan)    :    مفهوم  المفعوفيه
قسم البحث الأساسي
(Sub Pokok Bahasan)    :    1) تعريف المفعول فيه ( الظرف  الزمان و الظرف المكان) ، 2. الظروفِ الزّمانِية معربة ومبنية) 3. الظروفِ المكانية معربة ومبنية.
الفصل الدراسي(Semester)    :     3   (الثالث)
عدد المحاضرة(Jumlah Tatap muka)    :    16 (ستة عشر محاضرة )
عدد النظام الدراسي(Jumlah SKS)    :    2   (إثنان نظامان دراستان)
الإختصاص(Kompetensi)    يستطيع الطلاب أن يفهموا تركيب جملة اللغة العربية إسمية كانت أو فعلية  والتمييز بينهما، والقدرة على القراءة وتكوين الجملة مناسبة بالقواعد الصحيحة يشمل على منصوبات الأسماء (مفعول به، مفعول مطلق، مفعول من أجله، مفعول معه، مفعول فيه، الحال والتمييز ،أفعال المقاربة ، أفعال الرجاء والشروع ).
المؤشرات (Indikator  )    يستطيع الطلاب أن يبينواويفهموا  تعريف المفعول فيه،  الظرف  الزمان ، الظرف المكان و الكلمات  النائبات عن الظرف والقدرة على تكوين الجملة المتعلقة بمفعول فيه.
مفهوم المفعول  معه (Concomitant Patient)
أولا:
1    هل المفعول فيه  من الأسماء المنصوبات ؟    :    نعم، المفعول فيه  من الأسماء المنصوبات
2    أذكر كلا منها!    :    مفعول به، مفعول مطلق، مفعول من أجله، مفعول معه، مفعول فيه، الحال والتمييز

3    ما هو المفعول فيه؟    :    1.    هو ظرف منصوب يذكر بعد الفعل
لتحديد(to define) زمانه أومكانه(its time and place).
2.    اسم يذكر لبيان زمان الفعل أو مكانه
متضمن معنى ” في ”
هل معه إسم آخر لمفعول فيه ؟         نعم ، إسم آخر يقال له  ظرف الزمان والمكان
ما هو الظرف لغة.
هو الوعاء ، تقول : هذا الإناء ظرفُ الماء أي وعاءه
ما هو ظرف الزمان ؟        ظرف الزمان : هو اسمٌ يدلُّ على زمانِ وقوعِ الفعلِ بتقدير ( ‘في’ ) ويُستفهمُ عنه بمتى ويكونُ بعضُه مُعْرباً والآخرُ مبنياًّ.
أعط مثالا لمفعول فيه من ظرف الزمان !        غادرَ القطارُ ظهراً. انتظرتُك ساعةً. سافرتُ يومَ السبت. زرتُ الليلةَ محمدًا
أذكر أشهرَ ظروفِ الزّمانِ المعربة !        أشهرُ ظروفِ الزّمانِ المعربة منها: يومَ(day)، شهرَ(month)، سنةَ(year)، عاماً(years)، ساعةً(hour)، صباحاً(morning)، مساءً()، ظهراً()، عصراً()، ثانيةً()، دقيقةًًً(in minutes)، أسبوعاً(- week)، وقتَ(time)، أبداً(ever)، حينَ(when)، زمانَ(time)، أمداً()، نهاراً(day)، ليلاً(night)، ليلةَ(night)، سحراًً(Magic)، غداةَ(the day after)، لحظةَ(for a moment -.)،  هنيهةَ(a moment).
أذكر أشهرَ ظروفِ الزّمانِ المبنية !        أشهرُ ظروفِ الزّمانِ المبنية منها: إذا(If)، إذْ(as)، منذُ(since) مذْ()، أمسِ(Yesterday) أيّان ()الآنَ(now)، قطُّ(Never)- لمّا()، لدنْ().
ما هو ظرف المكان ؟        اسمٌ يدلُّ على مكانِ وقوعِ الفعلِ، ويُستفهمُ عنه بأيْن. وتكونُ بعضُ ظروفِ المكانِ مُعرَبةً والأخرى مبنيّةً.
4    أعط مثالا لمفعول فيه من ظرف المكان !    :    وقف الجندي أمامَ القصر. خالدٌ عندَ المسجد.
أذكر أشهرَ ظروفِ المكان المعربة !    :    وأشهرُ ظروفِ المكانِ المُعرَبةِ: فوقَ(over)، تحتَ(under)، يمينَ(right)، يسارَ(left)، أمامَ(in front of -)، خلفَ(behind)، جانبَ(Side)، بينَ(Among)، مكانَ(Place)،  ناحيةَ(Hand)، وسطَ(Central)، خلالَ(Through)، تجاهَ(To)، إزاء(in the face of)َ، حذاءَ() قربَ(near)، حولَ(Around)، شرقَ(East)، غربَ(West)، جنوبَ(South)، شمال (North)َ.
أذكر أشهرُ ظروفِ المكان المبنية !        وأشهرُ الظّروفِ المبنيّةِ منها: أينَ(where)،أنى(- wherever)، ثَمَّ(there.)، حيثُ(where)، هنا(here)،  هناك(there).
أذكر الكلمات النائبات عن الظرف !        كلمات تنوب عن الظروف في دلالتها على المكان أو الزمان، وتعرب منصوبة على الظرفية، منها:
1- كل، بعض: يذاكر محمد كلَّ يوم، عمل خالد بعضَ الوقت.
2- العدد المضاف إلى ظرف: عملت عشرَ ساعات. سهرت خمس ليال، سرت عشرة أيام
3- المصدر: انتظرتك انصرافَ الطلاب. انتظرتك وصولَ القطار
4- الصفة: سهرت قليلاً
التدريب (1)    :
حدِّدْ المفعو ل فيه في  الجمَلِ التَالِيةِ واضبطها بالشكل :
زرتُ الليلة طالبةً، زارالطالب اليوم مدرساً، ذهبتُ غُدْوَةً إِلى المطار، أكلت سَحَراً تمرات، سآتيك غداً يا محمدُ، صليت عَتَمَةً صلاة العشاء، أكلت صباحاً تمرات، كتبتُ الدرس مساءً ، وَقَفْتُ أَمَامَ المدرس، جلست وراءَ العميدِ، قمت تحتَ ظل شجرةٍ  .
فعل + فاعل    المفعو ل فيه    مفعلول  به
1    زرتُ    الليلة    طالبةً
2    ………………    ……    ………………
3    ………………    ……    ………………
4    ………………    ……    ………………
5    ………………    ……    ………………
6    ………………    ……    ………………
7    ………………    ……    ………………
8    ………………    ……    ………………
9    ………………    ……    ………………
10    ………………    ……    ………………
11    ………………    ……    ………………
التدريب (2)    استخرج  الظرف الزمان والمكان من الجمل التالية  !
الصومُ يومَ الخميس،  المسجدُ أمامَ المنزل، وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ، اليوم أكملت لكم دينكم، فولِّ وجهك شطر المسجد الحرام، وما خلقنا السماء وما بينهما لاعبين، سأزلزل الدنيا غدا- وأسير جيشا أوحدا، أصفو وأكدر أحيانا، دارت سفينة الفضاء حول القمر عشر دورات، ومكث كلّ دورة ساعتين، جمعت الأسرتين المختلف أبناؤهما وأصلحتُ بينهما، تأخر القطار ساعتين لحادث فجائيّ، قضيت يومين في الريف، قم الليل الا قليلا، لَقَدْ رَضي اللهُ عَنِ المُؤْمِنينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة،
الظرف الزمان        الظرف المكان
1    الصومُ يومَ الخميس    :    المسجدُ أمامَ المنزل
2    …………………    :    ………………..
3    …………………    :    ………………..
4    …………………    :    ………………..
5    …………………    :    ………………..
6    …………………    :    ………………..
7    …………………    :    ………………..
8    …………………    :    ………………..
9    …………………    :    ………………..
10    …………………    :    ………………..
11    …………………    :    ………………..
12    …………………    :    ………………..
13    …………………    :    ………………..
14    …………………    :    ………………..
15    …………………    :    ………………..
16    …………………    :    ………………..
17    …………………    :    ………………..
18    …………………    :    ………………..
19    …………………    :    ………………..
20    …………………    :    ………………..
الثدريب (3)
أكمل بمفعولٍ فيه  مضبوطٍ  مناسبٍ للمعنى
1    عدنا من صلاة  الفجر………………………………….
2    يحج المرء……………………………………….
3    وأقمت في مكة………………………………… .
التدريب (4)
اختر الإجابة الصحيحة مما بين الأقواس  ()
1    حضرتُ ……… لزيارتكم    :    (اليوم- الأمام- الظهر )
2    وما تدرى نفس ماذا تكسب….     :    (صباحا- غدا – قليلا)
3    وبنينا……… سبعا شِدادا    :
(فوقكم- تحتكم- بينكم)
تطبيق الاعراب !
قال تعالى { وما تدري نفس ماذا تكسب غدا }
وما   : الواو حرف عطف ، وما نافية لا عمل لها     نفس : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الضمة .
تدري : فعل مضارع مرفوع وعلامة رفعه الضمة المقدرة على الياء للثقل .     ما ذا ” اسم استفهام مركب مبنى على السكون في محل نصب مفعول به مقدم  لتكسب ، وجملة تكسب … الخ سدت مسد مفعولي تدري المعلقة بالاستفهام .
تكسب : فعل مضارع مرفوع بالضمة ، وفاعله ضمير مستتر فيه جوازا تقدير: هي يعود على النفس .     غدا : ظرف زمان منصوب بالفتحة متعلق بتكسب
التدريب (5)
أعرب الجملة الآتية إعرابا تاما!
وأقمت في البلد شهرا    وأقمت …………………..
في البلد………………….    شهرا…………………….
التدريب (6)
صحح الجملة  الآتية  التي تحتها خط !
المثال : غادرت المدينة اليوم جمعة . الصحيح : غادرت المدينة يوم  الجمعة
وأنذرهم اليوم الحسرة ، يخافون يوم، مشيت الأمام الجند ، ووقفت فوقُِ المنبر ، وسرت الميل . ونزل المطر المدة الركعتين من الصلاة
1……………………..    2……………………..
3……………………..    4……………………..
5…………………….    6……………………..

المحاضرة الثالثة
المفعول  المطلق  ()
البحث الأساسي(Pokok Bahasan)    :    مفهوم  المطلق
قسم البحث الأساسي
(Sub Pokok Bahasan)    :    تعريف المفعول المطلق  ، 2) عوامل المفعول معه، 3) حكم المفعول معه، 4) الفرق بين  واو المعية وواو العطف
الفصل الدراسي(Semester)    :     3   (الثالث)
عدد المحاضرة(Jumlah Tatap muka)    :    16 (ستة عشر محاضرة )
عدد النظام الدراسي(Jumlah SKS)    :    2   (إثنان نظامان دراستان)
الإختصاص(Kompetensi)    يستطيع الطلاب أن يفهموا تركيب جملة اللغة العربية إسمية كانت أو فعلية  والتمييز بينهما، والقدرة على القراءة وتكوين الجملة مناسبة بالقواعد الصحيحة يشمل على منصوبات الأسماء (مفعول به، مفعول مطلق، مفعول من أجله، مفعول معه، مفعول فيه، الحال والتمييز ،أفعال المقاربة ، أفعال الرجاء والشروع ).
المؤشرات (Indikator  )    يستطيع الطلاب أن يبينواويفهموا  تعريف المفعول معه، عوامل المفعول معه، حكم المفعول معه، الفرق بين  واو المعية وواو العطف  والقدرة على تكوين الجملة المتعلقة بمفعول معه.
مفهوم المفعول  معه (Concomitant Patient)
أولا:
1    هل المفعول معه من الأسماء المنصوبات ؟    :    نعم، المفعول معه من الأسماء المنصوبات
2    أذكر كلا منها!    :    مفعول به، مفعول مطلق، مفعول من أجله، مفعول معه، مفعول فيه، الحال والتمييز

3    ما هو المفعول معه ؟    :    هو اسم فضلة (Supplement) منصوب (open)، قبله واو تدل بمعنى “مع” للمصاحبة (meaning with) (لا للعطف والمشاركة) مسبوقة بجملة (Sentence) فيها فعل وفاعل  أو ما يشبهه.
4    أعط مثالا !     :    1. مشىَ المديرُو(sepanjang/along)الجدارَ ، 2. سرتُ و(menyu/along)الجبالَ،
5    بِم بُدأتْ هذه الجملُ؟     :    1.    بدأت بجملة  فعلية (مشيَ+ المديرُ)،
2.    بدأت بجملة  فعلية ( سار + ضمير متحرك مرفوع ” تُ”)،
6    أيّ حرف التي تكون بعد الجملة؟        الحرف التي تكون بعد الجملة هي الواو
7    ماذا نسمي الواوالتي تكون بعدها ؟         نسميها الواو المعية  او الواو بمعنى”مع”( meaning with)
8    ٍ ماذالذي يدل في المعنى     :    يدل للمصاحبة (seiring) لا للعطف (hubungan) والمشاركة(gabungan)
9    ما الكلمة التي فضلت بعد الواو المعية    وأكملت معنى الجملة؟      :
الجدارَ، الجبالَ،
10    ماذا نسمي هذه الكلمة ؟    :    نسميها المفعول معه (Concomitant Patient)
11    لماذا سمي بمفعول معه ؟    :    لمصاحبة الفاعل وملازمته
12    كيف  حركة المفعول معه ؟    :    حركته المنصوب ( َ )
13    ما علامة نصبه ؟        علامة نصبه  الفتحة
ثانيا:
1    ما هي العوامل التي تنصب في المفعول معه ؟
:
1. الفعل  نحو ” سرت وشاطئَ البحرِ”  2. اسم الفاعل نحو “أنا سائر و وشاطئَ البحرِ”  3. اسم المفعول نحو “العميد مُكرَمٌ وزوجته” 4. المصدر نحو ”  سيرك وشاطئ البحر في الصباح مفيد” 5. اسم الفعل؛ مثل  رويدك والسيارة
2    هل معها عوامل أخرى ؟         نعم، معها عوامل أخرى  مثل” ما ـ كيف” الاستفهاميتان؛ مثل  ” ما أنت وهوان المسلمين؟ ” وكيف أنت وإقامة المجتمع على الصواب؟ هوان ـ إقامة : مفعول معه منصوب بـ ما ـ كيف وعلامة النصب الفتحة الظاهرة, والتقديرما تكون وهوان المسلمين , و كيف تكون وإقامة المجتمع على الصواب
ثالثا:    ما حكم الاسم الواقع بعد الواو ؟

:    حكم الاسم الواقع بعد الواوحالات فيما يلي:
1.    وجوب نصبه  على أنه  مفعول معه نحو ” سار حسن وشاطئَ البحرِِ”ولا يصح أن تكون معطوفا على “حسن” والاّ صار المعنى : سار حسنٌ و سار شاطئُ البحرِِ . ونحو قوله ” عجبت منك ومحمدأ ” ولا يصح عطفها على الضمير المجرور بمِنْ  واذا اردتَ العطف  قلتَ ” عجبتُ منك ومن محمدٍ”
2.    وجوب العطف وامتناع إعرابه مفعولا معه نحو ”  حضر المديرُ والعميدُ قبلَه”  ومثل “تعاون  المدرس والطالب”.
3.    جواز إعرابه معطوفاو مفعولا معه مثل” قمتُ وعليا أو عليُّ ” والأول أحسن .
رابعا:    أذكر الفرق بين  واو المعية وواو العطف

:    أذكر الفرق بينهما ما يلي :
1.    إذا كان الواو يقع بعد فعل متعدِّد فهي واو العطف، نحو: تصافح وتشاجر وتشارك وتحاور.. نحو: “تصافح خالدٌ وسعيدٌ، وتشاجر زهيرٌ عليٌّ. ”
2.    إذا كان الواو يقع  بعد فعل غير  متعدِّد والضمير
المجرور “بمِنْ ” فهي واو المعيةكما في المثال
السابق
التدريب (1)    :
حدِّدْ المفعو ل معه  في  الجمَلِ التَالِيةِ واضبطها بالشكل :
فَأَجْمِعوا أمركم وشركاءكم،  سافر الرجل وطلوع الشمس،  جلس محمد والكتاب،  جوّل الفلاح والحديقة،  سهرت وقراءة القرآن،  سرت وأذكار الصباح،  أنا عائش وهموم المسلمين ،   يسرني عملك وطاعة الله تعالى، رويدك والسفيه،  ما أنت وعثمان؟،  ما أنتَ والسيْرَ في مَتْلَفٍ،  وكيف أنت وإقامة المجتمع على الصواب؟
فعل + فاعل    الواو    المفعو ل معه
1    ………………    ……    ………………
2    ………………    ……    ………………
3    ………………    ……    ………………
4    ………………    ……    ………………
5    ………………    ……    ………………
6    ………………    ……    ………………
7    ………………    ……    ………………
8    ………………    ……    ………………
9    ………………    ……    ………………
10    ………………    ……    ………………
11    ………………    ……    ………………
التدريب (2) استخرج المفعول معه من العبارة التالية
بقي سعيدٌ والتلفاز ، لمدة ساعة ولم يغلق التلفاز إلا وأذان العشاء ، ثم خرج وصاحبه لفترة  ثم رجع والسيارة الجديدة كتَب معاوية إلى عليّ كرّم الله وجهه، يحمّله تبعةَ قتْل عثمان. فأجابه عليّ: ما أنتَ وعثمانُ؟ إنما أنت رجلٌ مِن بني أميّة، وبنو عثمان أَوْلى..
1…………….    3………………    5……………..
2…………….    4………………    6…………….
7…………….    8………………    9…………….
الثدريب (3)
أكمل بمفعولٍ معه مضبوطٍ  مناسبٍ للمعنى
1    عدنا من صلاة الفجر و………………………………….
2    يحج المرء و ……………………………………….
3    يسير المؤمن في حياته و ………………………………… .
التدريب ( 3 )
اختر الإجابة الصحيحة مما بين الأقواس  ()
1     يسعد الرجل في منزله  و            :    (أبناؤُه – أبنائِه – أبناءَ ه)
2    يحب الطالب الدراسة و    :    (المجتهدين- المجتهدون- المجتهدان)
3    اتنزه دائماً و    :
(أعزُ – أعزَ – أعزِ ) أصحابي
تطبيق الاعراب !
مشىَ المديرُو(sepanjang/along)الجدارَ
مشِىَ : فعل ماض مبني على الفتح أبدا     المدير : فاعل ” مشيَ” مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره
الواو : واو المعية ، حرف مبني على الفتح  لا محل له من الاعراب    الجدارَ : مفعول معه منصوب بالفتحة

Renungan Senja

terperangah menatap datangnya senja
sekejap terdiam lesu membuka mata
sahut-sahut terdengar panggilan senja
bersimpuh sujud menghadap sang pemilik senja
berharap ampunan disetiap dosa-dosa
yang mencabik setiap langkah duka
tak kuat menahan rasa disegala luka
ampun sembah sujud bersimpuh derita

bersama kita meraih impian
menggapai cahaya kebersamaan
merajut mimpi dalam keabadian
ditengah hingar bingar dunia
menerjang segala aral yang melintang
menghadapi sebuah perjalanan hidup
menuju satu titik realitas
sebuah kehidupan yang sejalan
pada satu tujuan yang sama

Malam pun semakin larut
Mata ini pun tak kuasa terpejamkan
Entah apa dan kenapa ku selalu teringat
Hadirnya dirimu membawa sejuta rindu yang
Tak tertahankan …
Rasa cinta

Dengarkanlah wahai kekasihku
Meski rindu tak selalu di kalbu
Janganlah sekalipun kau ragu
Saat ku tak ada disisimu
Hati ini selalu milikmu tuk selamanya

Kesetiaan
Semoga masih terus  terjaga rasa hati tuk saling mengerti
Selama ini ku susun sebuah langkah tetap bersama
Agar tetap bertahan dalam kisah cinta ini
Ku kan terus mencoba berikan yang terbaik untukmu
Dan ku kan terus mencoba tuk menjaga bunga hidupmu

Resahnya kerinduan

Ku lihat keindahan kenangan hari-hari lalu
Dimataku tatapan yang lembut dan penuh kasih
Langit begitu jauh untukku singgahi dalam resahnya kerinduan
Ku hanya mampu berkata-kata
Ku harap tiap saat kau dapat hadir
Tuk selalu menemani jalan hidupku

kesungguhan
meraih kesempurnaan
untuk menggapai keniscayaan
menjalani lika-liku roda kehidupan
yang begitu suram dan begitu sungkan
terbungkam dengan hidup yang semerautan
bersimpuh rapuh menghadap kebesaran tuhan
hewan yang berakal rapuh ini memiliki banyak kebutuhan
yang selalu terus menerus tidak merasa berkecukupan
apa ini yang dimaksud dengan tahun tanpa tuhan?
yang selalu terus meminta dalam kesukaran
dan hanya duduk manis dalam kenikmatan
memintalah dengan penuh kehormatan
jangan lupa akan kedikdayaan tuhan
hewan-hewan ini hanyalah korban
dalam sisa-sisa kehidupan
yang penuh godaan
dan kemunafikan

Awan Tag